Feed on
Posts
comments

Berpikir Positif

Berkata yang membangun dan tidak menyakiti hati orang lain

Membuang sampah -sampah hati seperti: dendam, marah, iri, dalam diri sendiri

Melihat segala sesuatu dengan indah

Jaga suasana hati agar selalu bahagia

Jika menggunakan otot kita tidak akan kaya-kaya, jika menggunakan pikiran kita mengejar kekayaan tapi jika menggunakan hati kita dikejar-kejar kekayaan:)

Di Antartika, penguin-penguin berjalan bermil-mil ke pedalaman untuk bercumbu, kawin, dan membesarkan anak-anak mereka. Yang jantan tinggal di es untuk mengerami telur, selama periode empat bulan tanpa makanan apapun. Ini dilakukan di musim dingin Antartika sehingga anak-anak penguin akan lahir dalam bulan-bulan “musim panas”. Mereka harus bertahan dalam temperatur yang mendekati –100 di bawah nol dan badai salju dengan kecepatan angin 160 mil per jam.

Untuk menanggulangi ini, beribu-ribu penguin berkerumun dalam dalam sebuah kelompok yang sangat besar, sekitar 10 ekor per yar perseginya. Pada hari-hari yang berangin, penguin-penguin pada arah dari mana angin bertiup menutupi dingin dari mereka yang ada di tengah-tengah dan arah yang sebaliknya. Setiap penguin bergiliran berdiri pada arah dari mana angin bertiup sebelum mengepakkan sayapnya pada kerumunan untuk ikut dalam sisi yang satunya lagi. Mereka mengikuti satu sama lain dalam sebuah prosesi yang terus-menerus, melewati bagian tengah yang hangat, dan akhirnya kembali ke bagian dari mana arah angin bertiup. Selama badai salju, kerumunan itu dapat bergerak sejauh 100 yar dalam seharinya.

Kerja sama tim seperti ini tidak bisa berfungsi dengan pahlawan-pahlawan perseorangan. Sebenarnya, jika beberapa dari penguin memutuskan untuk “berkeras” tinggal pada bagian yang dingin, mereka pada akhirnya akan mati kedinginan, dan karenanya mengurangi jumlah anggota kelompok dan banyaknya panas kolektif yang ditimbulkan. Dengan mengecilnya kelompok, masing-masing penguin yang masih hidup akan harus menerima lebih banyak dingin, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk hidup. Maka, pahlawan-pahlawan dalam kasus ini dapat menjadi berbahaya. Keberhasilan terbesar penguin berasal dari masing-masing yang mengambil sedikit dingin dan memberikan kembali pemanasan. (Mr. Per, America’s Confidence Coach).

Menulis lagi

Sudah lama aku tidak menulis di blog ini. Mencoba untuk tidak mengutamakan ego itu. Dia begitu kuat,  kadang juga ingin mendominasi, Jika sudah begitu suasana menjadi panas. Lalu kucoba untuk mengundurkan diri sejenak. Untuk kembali ke hati, tidak menggunakan mind ini. Diam, hening, mengambil napas dan menyadari bahwa aku menghirup udara dan menyadari juga aku mengeluarkan napas. Lalu setelah hening, ada beberapa orang yang memaksakan egonya kepadaku, aku tetap hening  karena aku bukanlah apa yang mereka pikirkan…..

Meditasi

Halangan meditasi paling berat bukanlah bagaimana bertahan duduk posisi lotus atau bersilanya, tapi bagaimana menjinakkan pikiran liar ini, mencoba untuk tidak mengikutinya. Hanya nafas dan mantra yang paling efektif membantu. Bahkan aku sering sedih jika mereka ingin melukai walaupun aku sudah diam dan tidak membalas…

Batik

Kain batik bukanlah kepanjangan “bathine sithik”, meskipun nasibnya secara ekonomi tidak seperti para pelaku bisnisnya tapi para pembatik khususnya pembatik tulis adalah para seniman handal. Mereka melukis di atas kain menggunakan canting dan malam mengikuti pakem yang sudah ada. Proses yang lama dan sulit menjadikan kain batik tulis punya nilai seni yang tinggi dan ruh yang lain dengan batik printing ataupun batik cap yang proses pengerjaannya lebih cepat dan lebih mudah.

Jika ingin melihat proses pembuatan batik tulis ataupun membelinya silahkan mengunjungi Desa Giriloyo, Imogiri, Bantul  atau Desa Sendangrejo, Tancep, Gunung Kidul. Mari lestarikan budaya leluhur kita! Salam lestari!

Bersepeda

Sudah beberapa bulan ini aku mencoba untuk kemana-mana naik sepeda. Meskipun kadang-kadang harus naik motor atau nebeng teman adalah karena hal yang mendesak dan tidak mungkin dilakukan dengan sepeda. Misal jarak memang sangat jauh dan waktu terbatas serta jalannya naik turun maklum remnya agak kurang makan. Lalu apa yang kudapat selama bersepeda ini?

Menjadikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin, dulu rasanya sudah semakin bertambah umur akan membuat semakin malas ternyata tidak nyatanya aku masih kuat naik sepeda Tamsis-Ganjuran PP, Rumah -Kampus PP, meskipun ngos-ngosan tapi lumayan untuk olah kaki dan napas.

Banyak orang khususnya mobil dan para pengguna sepeda motor yang tidak peduli dan memperhatikan pengguna sepeda. Sebab beberapa kali kurasakan sendiri mereka tak sabar ketika dibelakangku di lampu bangjo langsung klakson, padahal aku kan harus ambil ancang-ancang dulu baru mengayuh sedang mereka tinggal tancap gas.

Banyak yang merasa aneh ada orang naik sepeda siang-siang sebab beberapa pengguna sepeda motor  ketika menyalib suka lirak-lirik dulu, mungkin beberapa naksir kali:) Tapi ada juga yang kelihatan sinis mungkin dia bukan orang yang ramah terhadap orang lain dan ramah lingkungan

Ternyata untuk bisa seharian bersepeda merupakan sesuatu yang sulit dan kesempatan yang sulit didapat dan bisa bersepeda merupakan sesuatu yang patut disyukuri sebab aku banyak melihat banyak orang yang ingin bersepeda tapi tidak mampu karena keterbatasan fisik dan beberapa karena keterbatasan status sosial agar bisa membuka topeng kehidupan keseharian mereka yang sudah tercemari bedak-bedak kapitalisme dan industrialisasi yang pelan-pelan merusak dan menghancurkan tapi tidak disadari

Putih Hitam

 

Di suatu desa yang terpencil di tengah-tengah hutan, terdapat air terjun yang deras dan tinggi. Aliran air terjun itu mengalir ke bawah membentuk sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga dan air terjun itu merupakan satu-satunya sumber air bersih bagi desa di bawahnya. Sehingga aturan desa yang terpencil itu melarang semua warganya membunuh semua binatang yang hidup di telaga itu. Semua binatang di telaga itu hidup sesuai usianya. Banyak sekali ikan warna-warni bersliweran besar dan kecil berenang di sekitar ganggang dan teratai biru muda. Keseimbangan ekosistem di telaga itu terjaga dengan alami. Tak ada satupun manusia yang diijinkan berenang ataupun buang air di telaga itu.

Keelokan dan kealamiahan telaga itu terkenal di mana-mana. Banyak orang ingin memandangnya dan melihat dari dekat. Namun oleh warga desa mereka tidak diperkenankan mendekat dan mereka sudah puas bisa memandang dari kejauhan. Semakin banyak beredar tentang keelokan telaga itu, semakin banyak para peziarah yang ingin melihatnya. Bahkan tidak hanya manusia, para bidadari dari kayangan pada bulan, hari, dan jam tertentu sangat senang mandi di telaga itu. Hal ini semakin membuat telaga itu terkenal dan semakin banyak orang ingin melihat telaga itu.

Desa terpencil dan terisolir itu menjadi terkenal berkat telaga itu. Desa yang tadinya sepi semakin ramai dikunjungi para peziarah yang ingin melihat telaga. Suatu hari di salah satu gubuk di desa itu ada seorang perempuan melahirkan dua anak laki-laki kembar. Wajahnya sangat mirip, hanya warna kulit yang membedakan. Satu agak putih, satunya lagi agak hitam. Maka orangtua mereka menjuluki anak itu Si Hitam dan Si Putih. Mereka bertambah besar dan beranjak menjadi laki-laki dewasa.

Kelahiran Si Kembar membuat heran warga. Apalagi sejak kecil Si Kembar kemana-mana selalu berdua dan mereka bisa melihat bidadari yang mandi di telaga pada bulan, hari, dan jam tertentu. Tidak ada yang bisa melihat dan berdialog dengan para bidadari kecuali Si Kembar. Saat bidadari mandi oleh warga desa Si Kembar diperbolehkan bermain dan berenang di telaga sebab setelah bermain bersama bidadari Si Kembar akan bercerita apa yang dikatakan bidadari dan pesan-pesan apa saja yang harus dituruti warga desa agar kondisi desa mereka tetap tenang, rukun, gemah ripah loh ginawe.

Sejak kecil apa yang dikatakan Si Kembar akan dituruti oleh warga desa. Sampai tanpa disadari para warga yang ingin berkeluh kesah juga minta petunjuk kepada Si Kembar. Akhirnya Si Kembar punya spesialisasi, warga yang keinginannya baik akan berdialog dengan Si Putih sedangkan warga yang keinginannya tidak baik akan berdialog dengan Si Hitam. Sekarang mereka sudah dewasa dan para bidadari tidak mau mereka berenang dan bermain di telaga itu. Hal itu juga mereka sadari bahwa mereka bukan anak-anak lagi seperti dulu.

Namun ketika Si Kembar tidak diperkenankan bermain bersama bidadari tidak ada lagi pesan yang bisa dituruti warga desa. Kondisi desa semakin lama menjadi tidak akur lagi. Mereka terbagi menjadi pengikut kelompok Si Hitam dan Si Putih. Kesemrawutan desa dan tiap hari terjadi peperangan memperebutkan kawasan serta pengaruh juga harta milik membuat suasana desa menjadi semakin panas. Lama kelamaan Si Hitam dan Si Putih tidak tahan tapi hanya para bidadari yang bisa menyampaikan pesan perdamaian kepada warga desa sebab mereka hanya perantara. Demi memperbaiki keadaan desanya Si Hitam mengajak Si Putih untuk ke telaga pada bulan, hari, dan jam tertentu. Sesampainya di tepi telaga ternyata Si Putih tidak bisa melihat apa yang ada di depannya karena ia menyadari bahwa sekarang dia sudah berbeda. Berbeda dengan Si Hitam dia tetap di tepi telaga sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. Tidak hanya melihat, kemudian timbul dalam hatinya untuk memiliki salah satu dari bidadari tersebut. Setiap mandi di telaga para bidadari itu membawa sapu warna-warni sebagai kendaraan untuk pulang. Sapu-sapu sesuai karakter para bidadari ada yang berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Sehingga ketika para bidadari mandi di telaga air di telaga akan berubah menjadi warna pelangi: mejikuhibiu. Namun kali ini yang bisa melihat keindahan air telaga hanya Si Hitam. Secara diam-diam Si Hitam lalu mencuri sapu berwarna nila milik salah seorang bidadari.

Sulur keemasan mentari mulai muncul dari celah-celah pohon di atas bukit, menandakan saat bersenang-senang bagi para bidadari telah habis. Mereka lalu mengambil sapu masing-masing dan terbang ke kayangan. Kecuali Si Nila. Sampai mentari mengintip dan tersenyum dari balik bukit dia masih mondar-mandir mencari sapunya. Akhirnya dengan bergaya menjadi tukang pengambil kayu bakar Si Hitam setelah menyembunyikan sapu itu di rumahnya, mendekati Si Nila.

“Apakah yang bisa saya bantu? Kok kelihatannya anda bingung?”

“Saya mencari sapu saya yang berwarna nila, apakah di sekitar sini anda tadi melihatnya?”

“Saya sudah berkeliling mencari kayu bakar di sekitar sini tapi tidak melihat sapu berwarna nila.”

“Kamu kok bisa melihat saya, bukankah hanya Si Hitam dan Si Putih yang bisa melihat kami di desa ini?”

“Saya memang Si Hitam mungkin kamu sudah pangling, karena saya sudah dewasa sekarang.”

“Mungkin anda bisa menginap di gubuk saya, sambil menunggu sapu yang hilang sampai ketemu.”

Sejak itu meskipun hanya Si Hitam dan Si Putih yang bisa melihat, kondisi desa bisa normal kembali berkat bisikan bidadari. Namun, kondisi di rumah Si Hitam dan Si Putih yang memanas. Si Hitam tidak senang jika Si Putih sering ngobrol dengan bidadari. Demi keutuhan hubungan saudara Si Putih akhirnya diminta pergi dari rumah oleh Si Hitam. Namun Si Hitam lupa belum memindahkan sapu berwarna nila di dalam lemari pakaiannya. Ketika Si Putih memberesi pakaiannya dia agak terkejut melihat benda aneh di pojok lemari Si Hitam ketika dia mau meminjam sarung untuk membuntel pakainnya. Lalu sapu warna nila itu dia tanyakan kepada Si Hitam ketika sedang ngobrol di serambi depan dengan bidadari.

“Benda apakah yang ada di lemarimu ini?”

Melihat sapu itu Si Hitam matanya membelalak, namun bidadari juga terkejut. Baru tahulah selama ini bahwa ternyata yang mencuri sapu nila miliknya adalah Si Hitam. Si Hitam diam seribu bahasa tak bisa berkata-kata. Sebagai hukuman bidadari memberikan ciuman kepada Si Putih atas kebaikannya yang tanpa sengaja membongkar apa yang selama ini disembunyikan Si Hitam. Setelah ciuman itu, Si Putih tidak perlu berdialog lagi dengan dengan bidadari sebab apa yang diucapkannya akan selalu benar. Kebalikan dengan Si Hitam apa yang dikatakannya selalu salah dan mengakibatkan kehancuran dan ketidakbaikan.

Desa itu akhirnya kembali rukun, damai, gemah ripah loh ginawe dipimpin oleh seorang Lurah bernama Si Putih. Saudara kembarnya Si Hitam karena sudah dicap jelek oleh warga desa akhirnya memilih mengasingkan diri ke desa yang jauh dan terpencil. Menikah dengan perempuan di desa lain. Namun Si Hitam agak kaget dan terkejut setelah tahu anaknya yang terlahir seorang laki-laki berkulit abu-abu.

 

Jogja, Oktober 2008

Moral Mural

 

Mural adalah coretan di dinding yang mulai terkenal akhir dekade ini. Awal coretan di tembok-tembok dulu biasanya nama genk yang saling bersaing berebut kawasan. Tidak peduli tembok tersebut bersih dan baru di cat para anak genk semakin senang mengoreskan nama genk mereka di tembok itu dengan cat pilok. Tak mau kalah dengan genk musuhnya tulisan tersebut akan disilang dan diganti dengan nama genk yang baru sehingga coretan pilok nama genk itu tampak semakin mengotori tembok rumah. Maka supaya tembok itu tampak lebih bernuansa seni muncullah ide mural ini. Tembok dicat kembali lalu dilukis dengan gambar yang lebih berbentuk dan bermakna. Perlahan-lahan anak-anak genk ini lalu belajar seni mural di tembok ini. Mereka tidak hanya mencoretkan nama genk mereka tapi berkarya tentang tema dan gambar apa yang akan mereka lukis. Sisi positif dari seni mural ini adalah tembok-tembok menjadi lebih indah dipandang dan punya nilai estetis.

Perkembangan selanjutnya, seni mural ini banyak dilombakan untuk mengirit biaya pembuatan mural dan menarik banyak lagi orang untuk mempelajari seni lukis bahkan beberapa menggunakan airbrush untk membuat mural ini. Para senimanpun juga bermunculan untuk menuangkan ide kreatif mereka sehingga beberapa gambar mural di tembok-tembok tepi jalan raya punya pesan moral bagi yang melihat dan membacanya. Keprihatinan sosial juga suara orang-orang yang suaranya tidak pernah diperhatikan muncul dalam seni mural ini. Salah satunya di bawah jembatan layang depan bioskop mataram menuju kampus UKDW. Dulu ada gambar-gambar komik yang membahasakan sesuatu tergantung interpretasi orang yang melihatnya. Ada gambar asap dengan orang hanya kelihatan matanya menandakan tingkat polusi akibat kendaraan bermotor sudah tinggi di Jogja. Hal ini juga perlu dipikirkan bahwa gaya hidup orang Jogja sudah mulai konsumtif dan kurang ramah lingkungan. Sehingga sekarang muncul slogan “bersepeda ke tempat kerja”. Tapi anehnya gambar mural tersebut sekarang diganti dengan gambar wayang. Apa maksud dari penggantian ini kurang bisa saya pahami? Memang Jogja adalah kota budaya dan sayapun sangat menghargai dan menyukai wayang dengan lakon tertentu. Wayang memang bisa menjadi icon dan sudah menjadi icon. Tapi makna mural sebagai suara orang yang termarginalkan menjadi semakin tertutupi dan ini salah satu bentuknya. Bersih memang baik, tapi jika sampah dari kebersihan itu yang menanggung adalah orang pinggiran saya kira bukan kebersihan yang manusiawi. Penguasa seolah tutup mata, dengan main sapu saja tanpa menghargai karya ide dan gagasan yang sudah dibangun lama. Mural yang terlihat sekarang bukan lagi suara anak-anak genk yang dulu suka coret-coret tembok. Lalu dikemanakan suara mereka?

Hari ini

Hanya untuk hari ini

Apa yang harus aku lakukan?

Tak kan mungkin aku memindahkan luasnya lautan di lubang kecil yang kubuat di tepi pantai

Juga ikan tak mungkin bertanya di mana samudra sementara dia berenang di dalamnya

Hanya mengikuti, menuruti

Mencoba mengikis ego ini, keinginan ini

Melaksanakan untuk berkarya bagi kebaikan semesta

Bermimpi dan bertanya?