Moral Mural
October 12, 2008 by agoenkgondrong
Mural adalah coretan di dinding yang mulai terkenal akhir dekade ini. Awal coretan di tembok-tembok dulu biasanya nama genk yang saling bersaing berebut kawasan. Tidak peduli tembok tersebut bersih dan baru di cat para anak genk semakin senang mengoreskan nama genk mereka di tembok itu dengan cat pilok. Tak mau kalah dengan genk musuhnya tulisan tersebut akan disilang dan diganti dengan nama genk yang baru sehingga coretan pilok nama genk itu tampak semakin mengotori tembok rumah. Maka supaya tembok itu tampak lebih bernuansa seni muncullah ide mural ini. Tembok dicat kembali lalu dilukis dengan gambar yang lebih berbentuk dan bermakna. Perlahan-lahan anak-anak genk ini lalu belajar seni mural di tembok ini. Mereka tidak hanya mencoretkan nama genk mereka tapi berkarya tentang tema dan gambar apa yang akan mereka lukis. Sisi positif dari seni mural ini adalah tembok-tembok menjadi lebih indah dipandang dan punya nilai estetis.
Perkembangan selanjutnya, seni mural ini banyak dilombakan untuk mengirit biaya pembuatan mural dan menarik banyak lagi orang untuk mempelajari seni lukis bahkan beberapa menggunakan airbrush untk membuat mural ini. Para senimanpun juga bermunculan untuk menuangkan ide kreatif mereka sehingga beberapa gambar mural di tembok-tembok tepi jalan raya punya pesan moral bagi yang melihat dan membacanya. Keprihatinan sosial juga suara orang-orang yang suaranya tidak pernah diperhatikan muncul dalam seni mural ini. Salah satunya di bawah jembatan layang depan bioskop mataram menuju kampus UKDW. Dulu ada gambar-gambar komik yang membahasakan sesuatu tergantung interpretasi orang yang melihatnya. Ada gambar asap dengan orang hanya kelihatan matanya menandakan tingkat polusi akibat kendaraan bermotor sudah tinggi di Jogja. Hal ini juga perlu dipikirkan bahwa gaya hidup orang Jogja sudah mulai konsumtif dan kurang ramah lingkungan. Sehingga sekarang muncul slogan “bersepeda ke tempat kerja”. Tapi anehnya gambar mural tersebut sekarang diganti dengan gambar wayang. Apa maksud dari penggantian ini kurang bisa saya pahami? Memang Jogja adalah kota budaya dan sayapun sangat menghargai dan menyukai wayang dengan lakon tertentu. Wayang memang bisa menjadi icon dan sudah menjadi icon. Tapi makna mural sebagai suara orang yang termarginalkan menjadi semakin tertutupi dan ini salah satu bentuknya. Bersih memang baik, tapi jika sampah dari kebersihan itu yang menanggung adalah orang pinggiran saya kira bukan kebersihan yang manusiawi. Penguasa seolah tutup mata, dengan main sapu saja tanpa menghargai karya ide dan gagasan yang sudah dibangun lama. Mural yang terlihat sekarang bukan lagi suara anak-anak genk yang dulu suka coret-coret tembok. Lalu dikemanakan suara mereka?

good eye, mas!!!!