Putih Hitam
October 20, 2008 by agoenkgondrong
Di suatu desa yang terpencil di tengah-tengah hutan, terdapat air terjun yang deras dan tinggi. Aliran air terjun itu mengalir ke bawah membentuk sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga dan air terjun itu merupakan satu-satunya sumber air bersih bagi desa di bawahnya. Sehingga aturan desa yang terpencil itu melarang semua warganya membunuh semua binatang yang hidup di telaga itu. Semua binatang di telaga itu hidup sesuai usianya. Banyak sekali ikan warna-warni bersliweran besar dan kecil berenang di sekitar ganggang dan teratai biru muda. Keseimbangan ekosistem di telaga itu terjaga dengan alami. Tak ada satupun manusia yang diijinkan berenang ataupun buang air di telaga itu.
Keelokan dan kealamiahan telaga itu terkenal di mana-mana. Banyak orang ingin memandangnya dan melihat dari dekat. Namun oleh warga desa mereka tidak diperkenankan mendekat dan mereka sudah puas bisa memandang dari kejauhan. Semakin banyak beredar tentang keelokan telaga itu, semakin banyak para peziarah yang ingin melihatnya. Bahkan tidak hanya manusia, para bidadari dari kayangan pada bulan, hari, dan jam tertentu sangat senang mandi di telaga itu. Hal ini semakin membuat telaga itu terkenal dan semakin banyak orang ingin melihat telaga itu.
Desa terpencil dan terisolir itu menjadi terkenal berkat telaga itu. Desa yang tadinya sepi semakin ramai dikunjungi para peziarah yang ingin melihat telaga. Suatu hari di salah satu gubuk di desa itu ada seorang perempuan melahirkan dua anak laki-laki kembar. Wajahnya sangat mirip, hanya warna kulit yang membedakan. Satu agak putih, satunya lagi agak hitam. Maka orangtua mereka menjuluki anak itu Si Hitam dan Si Putih. Mereka bertambah besar dan beranjak menjadi laki-laki dewasa.
Kelahiran Si Kembar membuat heran warga. Apalagi sejak kecil Si Kembar kemana-mana selalu berdua dan mereka bisa melihat bidadari yang mandi di telaga pada bulan, hari, dan jam tertentu. Tidak ada yang bisa melihat dan berdialog dengan para bidadari kecuali Si Kembar. Saat bidadari mandi oleh warga desa Si Kembar diperbolehkan bermain dan berenang di telaga sebab setelah bermain bersama bidadari Si Kembar akan bercerita apa yang dikatakan bidadari dan pesan-pesan apa saja yang harus dituruti warga desa agar kondisi desa mereka tetap tenang, rukun, gemah ripah loh ginawe.
Sejak kecil apa yang dikatakan Si Kembar akan dituruti oleh warga desa. Sampai tanpa disadari para warga yang ingin berkeluh kesah juga minta petunjuk kepada Si Kembar. Akhirnya Si Kembar punya spesialisasi, warga yang keinginannya baik akan berdialog dengan Si Putih sedangkan warga yang keinginannya tidak baik akan berdialog dengan Si Hitam. Sekarang mereka sudah dewasa dan para bidadari tidak mau mereka berenang dan bermain di telaga itu. Hal itu juga mereka sadari bahwa mereka bukan anak-anak lagi seperti dulu.
Namun ketika Si Kembar tidak diperkenankan bermain bersama bidadari tidak ada lagi pesan yang bisa dituruti warga desa. Kondisi desa semakin lama menjadi tidak akur lagi. Mereka terbagi menjadi pengikut kelompok Si Hitam dan Si Putih. Kesemrawutan desa dan tiap hari terjadi peperangan memperebutkan kawasan serta pengaruh juga harta milik membuat suasana desa menjadi semakin panas. Lama kelamaan Si Hitam dan Si Putih tidak tahan tapi hanya para bidadari yang bisa menyampaikan pesan perdamaian kepada warga desa sebab mereka hanya perantara. Demi memperbaiki keadaan desanya Si Hitam mengajak Si Putih untuk ke telaga pada bulan, hari, dan jam tertentu. Sesampainya di tepi telaga ternyata Si Putih tidak bisa melihat apa yang ada di depannya karena ia menyadari bahwa sekarang dia sudah berbeda. Berbeda dengan Si Hitam dia tetap di tepi telaga sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. Tidak hanya melihat, kemudian timbul dalam hatinya untuk memiliki salah satu dari bidadari tersebut. Setiap mandi di telaga para bidadari itu membawa sapu warna-warni sebagai kendaraan untuk pulang. Sapu-sapu sesuai karakter para bidadari ada yang berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Sehingga ketika para bidadari mandi di telaga air di telaga akan berubah menjadi warna pelangi: mejikuhibiu. Namun kali ini yang bisa melihat keindahan air telaga hanya Si Hitam. Secara diam-diam Si Hitam lalu mencuri sapu berwarna nila milik salah seorang bidadari.
Sulur keemasan mentari mulai muncul dari celah-celah pohon di atas bukit, menandakan saat bersenang-senang bagi para bidadari telah habis. Mereka lalu mengambil sapu masing-masing dan terbang ke kayangan. Kecuali Si Nila. Sampai mentari mengintip dan tersenyum dari balik bukit dia masih mondar-mandir mencari sapunya. Akhirnya dengan bergaya menjadi tukang pengambil kayu bakar Si Hitam setelah menyembunyikan sapu itu di rumahnya, mendekati Si Nila.
“Apakah yang bisa saya bantu? Kok kelihatannya anda bingung?”
“Saya mencari sapu saya yang berwarna nila, apakah di sekitar sini anda tadi melihatnya?”
“Saya sudah berkeliling mencari kayu bakar di sekitar sini tapi tidak melihat sapu berwarna nila.”
“Kamu kok bisa melihat saya, bukankah hanya Si Hitam dan Si Putih yang bisa melihat kami di desa ini?”
“Saya memang Si Hitam mungkin kamu sudah pangling, karena saya sudah dewasa sekarang.”
“Mungkin anda bisa menginap di gubuk saya, sambil menunggu sapu yang hilang sampai ketemu.”
Sejak itu meskipun hanya Si Hitam dan Si Putih yang bisa melihat, kondisi desa bisa normal kembali berkat bisikan bidadari. Namun, kondisi di rumah Si Hitam dan Si Putih yang memanas. Si Hitam tidak senang jika Si Putih sering ngobrol dengan bidadari. Demi keutuhan hubungan saudara Si Putih akhirnya diminta pergi dari rumah oleh Si Hitam. Namun Si Hitam lupa belum memindahkan sapu berwarna nila di dalam lemari pakaiannya. Ketika Si Putih memberesi pakaiannya dia agak terkejut melihat benda aneh di pojok lemari Si Hitam ketika dia mau meminjam sarung untuk membuntel pakainnya. Lalu sapu warna nila itu dia tanyakan kepada Si Hitam ketika sedang ngobrol di serambi depan dengan bidadari.
“Benda apakah yang ada di lemarimu ini?”
Melihat sapu itu Si Hitam matanya membelalak, namun bidadari juga terkejut. Baru tahulah selama ini bahwa ternyata yang mencuri sapu nila miliknya adalah Si Hitam. Si Hitam diam seribu bahasa tak bisa berkata-kata. Sebagai hukuman bidadari memberikan ciuman kepada Si Putih atas kebaikannya yang tanpa sengaja membongkar apa yang selama ini disembunyikan Si Hitam. Setelah ciuman itu, Si Putih tidak perlu berdialog lagi dengan dengan bidadari sebab apa yang diucapkannya akan selalu benar. Kebalikan dengan Si Hitam apa yang dikatakannya selalu salah dan mengakibatkan kehancuran dan ketidakbaikan.
Desa itu akhirnya kembali rukun, damai, gemah ripah loh ginawe dipimpin oleh seorang Lurah bernama Si Putih. Saudara kembarnya Si Hitam karena sudah dicap jelek oleh warga desa akhirnya memilih mengasingkan diri ke desa yang jauh dan terpencil. Menikah dengan perempuan di desa lain. Namun Si Hitam agak kaget dan terkejut setelah tahu anaknya yang terlahir seorang laki-laki berkulit abu-abu.
Jogja, Oktober 2008
Keren banget sih, Mas!!
I love it!!
Apik tp bagian akhir ra dong, sik marakke abu2 sopo ? apa si hitam jadi ‘putih’ ?
usul…besuk lahir yang ke-2 warna biru yach…:P
tapi..cip cip…gud gud…gawe sing akeh…